Tuti Allawiyah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Mereka “Cerdas” Bercerita, Kita Tulus Mendengar dan Bijak Menanggapi

Mereka “Cerdas” Bercerita, Kita Tulus Mendengar dan Bijak Menanggapi

Anak-anak sekarang “cerdas” mencari pembenaran. Usil, mengganggu teman sehingga memicu perkelahian tapi bercerita seolah-olah dia yang justru teraniaya.

Ketika ditegur dan dinasihati oleh guru. Di rumah bercerita pada orang tuanya tapi ceritanya diubah agar dia berada pada posisi benar. Dia bercerita diganggu teman padahal kenyataannya dia yang awalnya mengganggu temannya. Dia bercerita dimarahi guru, padahal faktanya guru hanya menasehati atau menegur. Bahkan ada yang lebih parah, cerita pada orang tua dipukul oleh guru, padahal guru hanya menepuk bahunya dengan maksud sebagai penekanan agar apa yang disampaikan ke anak tersebut mengena di hati.

Sayangnya banyak orang tua menelan mentah-mentah apa yang diceritakan anaknya. Semua yang dikatakan sang anak adalah benar tanpa mau mendengar kesaksian lain. Ujung-ujungnya permasalahan yang awalnya sederhana berujung pelik bahkan berujung laporan ke Polisi.

Ada juga peristiwa anak yang berantem cerita ke orang tua, orangtua tidak terima ikutan berseteru. Hingga anak-anak sudah baikan dan bermain bersama lagi tapi justru orang tuanya masih menyimpan dendam karena masing-masing merasa anaknyalah yang paling benar.

Dari mana anak-anak memperoleh “kecerdasan” seperti itu? “Kecerdasan” itu merupakan salah satu sisi gelap kemajuan IT dan globalisasi. Anak-anak belajar dari medsos, game online dan tayangan sinetron yang tidak mendidik. Di era sekarang ini segala macam informasi tayangan atau video bisa dengan mudah diakses melalui internet.

Lalu bagaimana mengatasi anak-anak dengan “kecerdasan” seperti itu?

Semua harus intropeksi diri!

Guru harus belajar lebih peka terhadap setiap tingkah laku anak didiknya. Menelusur secara objektif dan sejelas-jelasnya semua peristiwa yang terjadi. Bersikap bijak, dan lebih melapangkan hati menghadapi keunikan anak-anak “jaman now”.

Orang tua juga harus bijak. Dengarkan semua cerita anak dengan tulus. Biarkan mereka bercerita sesuka hati sesuai pembenaran yang diinginkan, karena memang mereka butuh didengarkan agar terbiasa terbuka. Namun tetaplah menjadi pendengar baik yang bijak. Jangan menerima mentah semua yang disampaikan! Telusurilah dari berbagai sumber kebenaran ceritanya sebelum memutuskan bertindak sesuatu.

Yang tidak kalah penting, pendidikan karakter harus benar-benar dilaksanakan, bukan sekedar dijadikan slogan. Pendidikan karakter yang membentuk anak menjadi seseorang yang jujur dan bertanggung jawab. Hal tersebut tidak akan terwujud tanpa adanya kerjasama dan saling pengertian antara orangtua, guru, dan masyarakat.

Bapak ibu guru, bapak ibu orangtua mari dengarkan celoteh mereka dengan tulus tanggapi dengan bijak.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Tulisan yang luar biasa..

06 Dec
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali